Hot!

Other News

More news for your entertainment

Ahkam Adzan wal Iqomah


بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Ahkam Adzan wal Iqomah 
Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah
 

 


Berikut link download Kitab :

Jumlah hal : 120
Besar file : 2.22 mb
Download Kitab



ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Adabul `Usyroh


بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Adabul `Usyroh
 
Kitab Adabul Usyroh wa dzikrus Suhbah wal ukhuwwah 
 (Adab-adab dalam Pergaulan, Bersahabat, dan Menjalin Persaudaraan).
Kitab tersebut disusun oleh Abul Barokaat Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghuzzy
 


Berikut link download Kitab :

Jumlah hal : 108
Besar file : 1.56 mb
Download Kitab



ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Al-Qaulus Sadid


بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Al-Qaulus Sadid

Al-Qaulus Sadid Syarh Kitabut Tauhid (Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir As-Si'di)
Kitab ini berisi penjelasan ringkas terhadap kandungan Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah

Berikut kitab Syarah/penjelas Kitab Tauhid yang ditulis oleh seorang ulama dari negeri Saudi Arabia yang sangat terkenal Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah; salah seorang guru Syaikh Utsaimin.
 


Berikut link download Kitab :

Jumlah hal : 303
Besar file : 4.96 mb
Download Kitab



ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Syarah Nawaqidhul Islam


بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Syarhu Nawaqidhul Islam
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan Hafizhahullah

Kitab Nawaqidhul Islam adalah buah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah.
Diantara mereka yang turut serta menggoreskan pena tuk menjelaskan kepada umat tentag kitab ini adalah Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan Hafizhahullah, Anggota dewan fatwa Arab Saudi
 


Berikut link download Kitab :

Jumlah hal : 209
Besar file : 4.67 mb
Download Kitab



ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Al-Hujajul Qowiyyah


بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Al-Hujajul Qowiyyah

Al-Hujajul Qowiyyah ala Wasaaili Da'wah Salafiyyah (Syaikh Abd.Salam bin Barjas)


 


Berikut link download Kitab :

Jumlah hal : 120
Besar file : 1.69 mb
Download Kitab



ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Hukum menghadiahkan bacaan Al Qur’anul Karim untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau selain beliau?


Kumpulan Fatwa 
Syaikh Abdul’Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah ta’ala [wafat 1420H] 
Hukum menghadiahkan bacaan Al Qur’anul Karim untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau selain beliau? 
Soal: Hukum menghadiahkan bacaan Al Qur’anul Karim untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau selain beliau? 

Jawaban: 
Menghadiahkan bacaan Al Quran Al Karim untuk ruh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para mayit tidak memiliki ada asalnya, tidak disyariatkan, dan tidak dilakukan oleh para shahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in.  Dan kebaikan hanyalah dicapai dengan mengikuti mereka.
Sementara itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  diberi pahala seperti pahala yang kita peroleh, segala kebaikan yang kita lakukan maka beliau mendapatkan pahala yang semisal dengan pahala kita, karena beliau orang yang menunjukkan kebaikan tersebut. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
من دل على خير فله مثل أجر فاعله
“Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukan kebaikan tersebut.” [HR. Muslim]
Beliau yang menunjukkan kebaikan bagi umat ini dan membimbing mereka untuk menunaikan kebaikan tersebut.

Jika seseorang membaca Al Quran, menegakkan shalat, berpuasa, dan bersedekah maka beliau diberi pahala seperti pahala orang yang melakukan ibadah tersebut dari kalangan umat ini karena beliau yang menunjukkan umat ini sehingga mengerti kebaikan tersebut dan melaksanakannya. Maka tidak ada hajat yang menuntut untuk menghadiahkan pahala bacaan Al Quran atau ibadah yang lainnya untuk beliau karena hal tersebut tidak ada dalilnya sebagaimana keterangan yang telah lalu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

“Siapasaja yang melakukan suatu amalan yang tidak dilandasi oleh perintah kami maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Al Bukhari dan Muslim]
Demikian juga membaca Al Quran untuk para mayit, hal ini tidak ada dalilnya bahkan yang wajib adalah meninggalkan perkara tersebut (yakni menghadiahkan bacaan untuk mayit).
Adapun bersedekah untuk para mayit dari kalangan kaum muslimin serta mendoakan mereka maka semua ini disyariatkan sebagaimana apa yang Allah ta’ala firmankan tentang sifat hamba-hamba-Nya yang shalih yang mengikuti para pendahulu mereka yang shalih:
]وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ[ [الحشر: 10] .

“Dan orang-orang yang datang setelah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berberdoa: “Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman mendahului kami.” [QS. Al Hasyr: 10]
Allah menyariatkan shalat jenazah dalam rangka mendoakan  dan memohon rahmat bagi para jenazah. Demikian juga sedekah untuk mayit, sedekah tersebut bermanfaat bagi mayit itu sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian juga menghajikan dan mengumrahkan mereka, serta menunaikan utang mereka, semua ini bermanfaat bagi mayit yang memeluk agama Islam.
Sumber:  Majmu’ Fatawa Al ‘Allamah AbdulAziz bin Baz Rahimahullah ta’ala jilid 13 hal. 278-279
Alih Bahasa:
Abu Bakar Abdullah bin Ali Al Jombangi di Daarul Hadits Fiyusy, Lahj, Yaman

Apa Itu Manhaj Salaf ?


Apa Itu Manhaj Salaf ?

Orang-orang yang hidup pada zaman Nabi adalah generasi terbaik dari umat ini. Mereka telah mendapat pujian langsung dari Allah dan Rasul-Nya sebagai sebaik-baik manusia. Mereka adalah orang-orang yang paling paham agama dan paling baik amalannya sehingga kepada merekalah kita harus merujuk.

Manhaj Salaf, bila ditinjau dari sisi kalimat merupakan gabungan dari dua kata; manhaj dan salaf. Manhaj dalam bahasa Arab sama dengan minhaj, yang bermakna: Sebuah jalan yang terang lagi mudah. (Tafsir Ibnu Katsir 2/63, Al Mu’jamul Wasith 2/957).

Sedangkan salaf, menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Siapa saja yang telah mendahuluimu dari nenek moyang dan karib kerabat, yang mereka itu di atasmu dalam hal usia dan keutamaan. (Lisanul Arab, karya Ibnu Mandhur 7/234). Dan dalam terminologi syariat bermakna: Para imam terdahulu yang hidup pada tiga abad pertama Islam, dari para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in (murid-murid shahabat) dan tabi’ut tabi’in (murid-murid tabi’in). (Lihat Manhajul Imam As Syafi’i fii Itsbatil ‘Aqidah, karya Asy Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqil, 1/55).

Berdasarkan definisi di atas, maka manhaj salaf adalah: Suatu istilah untuk sebuah jalan yang terang lagi mudah, yang telah ditempuh oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in dan tabi’ut tabi’in di dalam memahami dienul Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Seorang yang mengikuti manhaj salaf ini disebut dengan Salafy atau As Salafy, jamaknya Salafiyyun atau As Salafiyyun. Al Imam Adz Dzahabi berkata: “As Salafi adalah sebutan bagi siapa saja yang berada di atas manhaj salaf.” (Siyar A’lamin Nubala 6/21).

Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf (Salafiyyun) biasa disebut dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah dikarenakan berpegang teguh dengan Al Quran dan As Sunnah dan bersatu di atasnya. Disebut pula dengan Ahlul Hadits wal Atsar dikarenakan berpegang teguh dengan hadits dan atsar di saat orang-orang banyak mengedepankan akal. Disebut juga Al Firqatun Najiyyah, yaitu golongan yang Allah selamatkan dari neraka (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash), disebut juga Ath Thaifah Al Manshurah, kelompok yang senantiasa ditolong dan dimenangkan oleh Allah (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Tsauban). (Untuk lebih rincinya lihat kitab Ahlul Hadits Humuth Thaifatul Manshurah An Najiyyah, karya Asy Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali).

Manhaj salaf dan Salafiyyun tidaklah dibatasi (terkungkung) oleh organisasi tertentu, daerah tertentu, pemimpin tertentu, partai tertentu, dan sebagainya. Bahkan manhaj salaf mengajarkan kepada kita bahwa ikatan persaudaraan itu dibangun di atas Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan pemahaman Salafush Shalih. Siapa pun yang berpegang teguh dengannya maka ia saudara kita, walaupun berada di belahan bumi yang lain. Suatu ikatan suci yang dihubungkan oleh ikatan manhaj salaf, manhaj yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.

Manhaj salaf merupakan manhaj yang harus diikuti dan dipegang erat-erat oleh setiap muslim di dalam memahami agamanya. Mengapa? Karena demikianlah yang dijelaskan oleh Allah di dalam Al Quran dan demikian pula yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam Sunnahnya. Sedang kan Allah telah berwasiat kepada kita: “Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (An Nisa’: 59)

Adapun ayat-ayat Al Quran yang menjelaskan agar kita benar-benar mengikuti manhaj salaf adalah sebagai berikut:

1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : “Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.” (Al Fatihah: 6-7)

Al Imam Ibnul Qayyim berkata: “Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran dan berusaha untuk mengikutinya…, maka setiap orang yang lebih mengetahui kebenaran serta lebih konsisten dalam mengikutinya, tentu ia lebih berhak untuk berada di atas jalan yang lurus. Dan tidak diragukan lagi bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mereka adalah orang-orang yang lebih berhak untuk menyandang sifat (gelar) ini daripada orang-orang Rafidhah.” (Madaarijus Saalikin, 1/72).

Penjelasan Al Imam Ibnul Qayyim tentang ayat di atas menunjukkan bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang mereka itu adalah Salafush Shalih, merupakan orang-orang yang lebih berhak menyandang gelar “orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah” dan “orang-orang yang berada di atas jalan yang lurus”, dikarenakan betapa dalamnya pengetahuan mereka tentang kebenaran dan betapa konsistennya mereka dalam mengikutinya. Gelar ini menunjukkan bahwa manhaj yang mereka tempuh dalam memahami dienul Islam ini adalah manhaj yang benar dan di atas jalan yang lurus, sehingga orang-orang yang berusaha mengikuti manhaj dan jejak mereka, berarti telah menempuh manhaj yang benar, dan berada di atas jalan yang lurus pula.

2. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran, dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam,, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An Nisa’: 115)

Al Imam Ibnu Abi Jamrah Al Andalusi berkata: “Para ulama telah menjelaskan tentang makna firman Allah (di atas): ‘Sesungguhnya yang dimaksud dengan orang-orang mukmin disini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan generasi pertama dari umat ini, karena mereka merupakan orang-orang yang menyambut syariat ini dengan jiwa yang bersih. Mereka telah menanyakan segala apa yang tidak dipahami (darinya) dengan sebaik-baik pertanyaan, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun telah menjawabnya dengan jawaban terbaik. Beliau terangkan dengan keterangan yang sempurna. Dan mereka pun mendengarkan (jawaban dan keterangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut), memahaminya, mengamalkannya dengan sebaik-baiknya, menghafalkannya, dan menyampaikannya dengan penuh kejujuran. Mereka benar-benar mempunyai keutamaan yang agung atas kita. Yang mana melalui merekalah hubungan kita bisa tersambungkan dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, juga dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.’” (Al Marqat fii Nahjissalaf Sabilun Najah hal. 36-37)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Dan sungguh keduanya (menentang Rasul dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin –red) adalah saling terkait, maka siapa saja yang menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran, pasti ia telah mengikuti selain jalan orang-orang mukmin. Dan siapa saja yang mengikuti selain jalan orang-orang mukmin maka ia telah menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran.” (Majmu’ Fatawa, 7/38).

Setelah kita mengetahui bahwa orang-orang mukmin dalam ayat ini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (As Salaf), dan juga keterkaitan yang erat antara menentang Rasul dengan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, maka dapatlah disimpulkan bahwa mau tidak mau kita harus mengikuti “manhaj salaf”, jalannya para sahabat.

Sebab bila kita menempuh selain jalan mereka di dalam memahami dienul Islam ini, berarti kita telah menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan akibatnya sungguh mengerikan… akan dibiarkan leluasa bergelimang dalam kesesatan… dan kesudahannya masuk ke dalam neraka Jahannam, seburuk-buruk tempat kembali… na’udzu billahi min dzaalik.

3. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang agung.” (At-Taubah: 100).

Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak mengkhususkan ridha dan jaminan jannah (surga)-Nya untuk para sahabat Muhajirin dan Anshar (As Salaf) semata, akan tetapi orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik pun mendapatkan ridha Allah dan jaminan surga seperti mereka.

Al Hafidh Ibnu Katsir berkata: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengkhabarkan tentang keridhaan-Nya kepada orang-orang yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, dan ia juga mengkhabarkan tentang ketulusan ridha mereka kepada Allah, serta apa yang telah Ia sediakan untuk mereka dari jannah-jannah (surga-surga) yang penuh dengan kenikmatan, dan kenikmatan yang abadi.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/367). Ini menunjukkan bahwa mengikuti manhaj salaf akan mengantarkan kepada ridha Allah dan jannah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

فَإِنْ ءَامَنُوا بِمِثْلِ مَا ءَامَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ 

Artinya : “Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu).” [QS Al Baqoroh: 137]


Adapun hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sebagai berikut: 

1. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku, dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang terbimbing, berpeganglah erat-erat dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham…” (Shahih, HR Abu Dawud, At Tirmidzi, Ad Darimi, Ibnu Majah dan lainnya dari sahabat Al ‘Irbadh bin Sariyah. Lihat Irwa’ul Ghalil, hadits no. 2455). Dalam hadits ini dengan tegas dinyatakan bahwa kita akan menyaksikan perselisihan yang begitu banyak di dalam memahami dienul Islam, dan jalan satu-satunya yang mengantarkan kepada keselamatan ialah dengan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin (Salafush Shalih). Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan agar kita senantiasa berpegang teguh dengannya. Al Imam Asy Syathibi berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam -sebagaimana yang engkau saksikan- telah mengiringkan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin dengan sunnah beliau, dan bahwasanya di antara konsekuensi mengikuti sunnah beliau adalah mengikuti sunnah mereka…, yang demikian itu dikarenakan apa yang mereka sunnahkan benar-benar mengikuti sunnah nabi mereka atau mengikuti apa yang mereka pahami dari sunnah beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, baik secara global maupun secara rinci, yang tidak diketahui oleh selain mereka.”(Al I’tisham, 1/118).

2. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Terus menerus ada sekelompok kecil dari umatku yang senantiasa tampil di atas kebenaran. Tidak akan memudharatkan mereka orang-orang yang menghinakan mereka, sampai datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan seperti itu.” (Shahih, HR Al Bukhari dan Muslim, lafadz hadits ini adalah lafadz Muslim dari sahabat Tsauban, hadits no. 1920).

Al Imam Ahmad bin Hanbal berkata (tentang tafsir hadits di atas): “Kalau bukan Ahlul Hadits, maka aku tidak tahu siapa mereka?!” (Syaraf Ashhabil Hadits, karya Al Khatib Al Baghdadi, hal. 36).

Al Imam Ibnul Mubarak, Al Imam Al Bukhari, Al Imam Ahmad bin Sinan Al Muhaddits, semuanya berkata tentang tafsir hadits ini: “Mereka adalah Ahlul Hadits.” (Syaraf Ashhabil Hadits, hal. 26, 37). Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad Dahlawi Al Madani berkata: “Hadits ini merupakan tanda dari tanda-tanda kenabian (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam), di dalamnya beliau telah menyebutkan tentang keutamaan sekelompok kecil yang senantiasa tampil di atas kebenaran, dan setiap masa dari jaman ini tidak akan lengang dari mereka. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendoakan mereka dan doa itupun terkabul. Maka Allah ‘Azza Wa Jalla menjadikan pada tiap masa dan jaman, sekelompok dari umat ini yang memperjuangkan kebenaran, tampil di atasnya dan menerangkannya kepada umat manusia dengan sebenar-benarnya keterangan. Sekelompok kecil ini secara yakin adalah Ahlul Hadits insya Allah, sebagaimana yang telah disaksikan oleh sejumlah ulama yang tangguh, baik terdahulu ataupun di masa kini.” (Tarikh Ahlil Hadits, hal 131).

Ahlul Hadits adalah nama lain dari orang-orang yang mengikuti manhaj salaf. Atas dasar itulah, siapa saja yang ingin menjadi bagian dari “sekelompok kecil” yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadits di atas, maka ia harus mengikuti manhaj salaf.

3. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “…. Umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan. Beliau ditanya: ‘Siapa dia wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: golongan yang aku dan para sahabatku mengikuti.” (Hasan, riwayat At Tirmidzi dalam Sunannya, Kitabul Iman, Bab Iftiraqu Hadzihil Ummah, dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash).

Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad Dahlawi Al Madani berkata: “Hadits ini sebagai nash (dalil–red) dalam perselisihan, karena ia dengan tegas menjelaskan tentang tiga perkara: 
  1. Pertama, bahwa umat Islam sepeninggal beliau akan berselisih dan menjadi golongan-golongan yang berbeda pemahaman dan pendapat di dalam memahami agama. Semuanya masuk ke dalam neraka, dikarenakan mereka masih terus berselisih dalam masalah-masalah agama setelah datangnya penjelasan dari Rabb Semesta Alam. 
  2. Kedua, kecuali satu golongan yang Allah selamatkan, dikarenakan mereka berpegang teguh dengan Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mengamalkan keduanya tanpa adanya takwil dan penyimpangan. 
  3. Ketiga, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menentukan golongan yang selamat dari sekian banyak golongan itu. Ia hanya satu dan mempunyai sifat yang khusus, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri (dalam hadits tersebut) yang tidak lagi membutuhkan takwil dan tafsir. (Tarikh Ahlil Hadits hal 78-79). Tentunya, golongan yang ditentukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu adalah yang mengikuti manhaj salaf, karena mereka di dalam memahami dienul Islam ini menempuh suatu jalan yang Rasulullah dan para sahabatnya berada di atasnya.

Berdasarkan beberapa ayat dan hadits di atas, dapatlah diambil suatu kesimpulan, bahwa manhaj salaf merupakan satu-satunya manhaj yang harus diikuti di dalam memahami dienul Islam ini, karena: 

  1. Manhaj salaf adalah manhaj yang benar dan berada di atas jalan yang lurus. 
  2. Mengikuti selain manhaj salaf berarti menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang berakibat akan diberi keleluasaan untuk bergelimang di dalam kesesatan dan tempat kembalinya adalah Jahannam. 
  3. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf dengan sebaik-baiknya, pasti mendapat ridha dari Allah dan tempat kembalinya adalah surga yang penuh dengan kenikmatan, kekal abadi di dalamnya. 
  4. Manhaj salaf adalah manhaj yang harus dipegang erat-erat, tatkala bermunculan pemahaman-pemahaman dan pendapat-pendapat di dalam memahami dienul Islam, sebagaimana yang diwasiatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. 
  5. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, mereka adalah sekelompok dari umat ini yang senantiasa tampil di atas kebenaran, dan senantiasa mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. 
  6. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, mereka adalah golongan yang selamat dikarenakan mereka berada di atas jalan yang ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabatnya. 

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika: 
  1. Al Imam Abdurrahman bin ‘Amr Al Auza’i berkata: “Wajib bagimu untuk mengikuti jejak salaf walaupun banyak orang menolakmu, dan hati-hatilah dari pemahaman/pendapat tokoh-tokoh itu walaupun mereka mengemasnya untukmu dengan kata-kata (yang indah).” (Asy Syari’ah, karya Al Imam Al Ajurri, hal. 63). 
  2. Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit berkata: “Wajib bagimu untuk mengikuti atsar dan jalan yang ditempuh oleh salaf, dan hati-hatilah dari segala yang diada-adakan dalam agama, karena ia adalah bid’ah.” (Shaunul Manthiq, karya As Suyuthi, hal. 322, saya nukil dari kitab Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 54).
  3. Al Imam Abul Mudhaffar As Sam’ani berkata: “Syi’ar Ahlus Sunnah adalah mengikuti manhaj salafush shalih dan meninggalkan segala yang diada-adakan (dalam agama).” (Al Intishaar li Ahlil Hadits, karya Muhammad bin Umar Bazmul hal. 88). 
  4. Al Imam Qawaamus Sunnah Al Ashbahani berkata: “Barangsiapa menyelisihi sahabat dan tabi’in (salaf) maka ia sesat, walaupun banyak ilmunya.” (Al Hujjah fii Bayaanil Mahajjah, 2/437-438, saya nukil dari kitab Al Intishaar li Ahlil Hadits, hal. 88) 
  5. Al-Imam As Syathibi berkata: “Segala apa yang menyelisihi manhaj salaf, maka ia adalah kesesatan.” (Al Muwafaqaat, 3/284), saya nukil melalui Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 57). 
  6. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Tidak tercela bagi siapa saja yang menampakkan manhaj salaf, berintisab dan bersandar kepadanya, bahkan yang demikian itu disepakati wajib diterima, karena manhaj salaf pasti benar.” (Majmu’ Fatawa, 4/149). Beliau juga berkata: “Bahkan syi’ar Ahlul Bid’ah adalah meninggalkan manhaj salaf.” (Majmu’ Fatawa, 4/155).

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa membimbing kita untuk mengikuti manhaj salaf di dalam memahami dienul Islam ini, mengamalkannya dan berteguh diri di atasnya, sehingga bertemu dengan-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Amin yaa Rabbal ‘Alamin. Wallahu a’lamu bish shawaab.

(Dikutip dari tulisan Al Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al Atsari, Lc, judul asli Mengapa Harus Bermanhaj Salaf, rubrik Manhaji, Majalah Asy Syariah.

Url sumber http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=82)

Hakekat Diciptakannya Seorang Hamba (Risalah Pena Kangen)


RISALAH PENA KANGEN
Tak terasa sekian tahun sudah berlalu, berpisah dengan orang-orang yang dekat dihati demi cita-cita yang tinggi, belajar ilmu syar’i. Ibu, bapak, simbah, mbak, mas, dan adik selalu setia menyemangati perjuangan suci ini menuju surga ilahi. Doa, donasi, telepon, sms, ataupun chating hangat mereka selalu rutin menyapa dikala kerinduan ini menggelora.
Teringat pesan simbah dulu ketika Allah mudahkan pulang ke rumah, “Ajari simbah ngaji ya…” Simbah putri dari jalur ibu menginjak usia diatas 80 tahun. Beliau masih aktif selepas subuh dan maghrib membaca Al Quran dengan mushaf madinah besar hadiah dari cucunya. Dengan jalan tertatih-tatih, beliau tidak mau terluputkan dari keutamaan shalat berjamaah di mushola seberang jalan itu.
Semoga Allah menjadikan simbah, ibu, bapak, dan kita dari orang-orang yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam sabdakan dalam hadits yang telah dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dari Sahabat Abi Shofwan Abdullah bin Busr Al Aslamy radhiyallahu anhu, ketika itu ditanya “Siapakah manusia yang paling baik?” Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam menjawab:
((  مَنْ طَالَ عُمْرُهْ وَحَسُنَ عَمَلُهُ )) [رواه الترمذي  ٢٣٢٩]

“Yang panjang umurnya dan baik amalannya.”(HR Tirmidzi No. 2329)
Tinta ini mengalir, mencurahkan kangen sama keluarga yang begitu mendalam. Walau jarak ribuan mil memisahkan kita tapi hati selalu ingin dekat. Niatan untuk berbincang hangat dengan keluarga selalu muncul tapi apa daya jarak memisahkan kita. Semoga goresan pena ini menjadi pelipur lara kerinduan hati kita.
Coba perhatikanlah sekeliling kita, hamparan bumi menghijau, gunung-gunung gagah menjulang tinggi, dan langit biru cerah terhiasi dengan awan putih. Berjuta-juta makhluk bertebaran di muka bumi ini menjalini siklus kehidupannya masing-masing.
Semuanya berjalan dengan teratur dan rapi, tentunya akal sehat kita akan berpikir pasti ada Dzat yang menciptakan, memiliki, mengatur, dan menyempurnakan itu semua. Ya Dialah Allah, sebagaimana firman-Nya:
{( قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُم مِنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَمَن ُيخْرِجُ الحَيَّ مِنَ المَيِّتِ وَيُخْرِجُ المَيِّتَ مِنَ الحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللهُ فَقُْل أَفَلَا تَتَّقُونَ )} [يونس: ٣١]

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki pada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang memiliki pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan mengatakan: “Allah”. Maka katakanlah, “Kenapa kalian tidak bertakwa?” (QS Yunus: 31)
Keteraturan itu juga mengantarkan kita untuk berpikir bahwa pencipta, pemilik, pengatur alam semesta ini cuma satu, Allah semata. Logika mudah kita akan menyatakan kalau pencipta alam lebih dari satu, tentunya masing-masing akan mengatur dengan caranya sendiri-sendiri. Maka berantakan dan hancurlah alam semesta ini, dan hal ini adalah sebuah kemustahilan yang sangat besar. Mobil saja ketika ada dua sopir arahnya tidak menentu, gimana dengan alam semesta ini. Allah pertegas hal ini dalam firman-Nya:
{( مَا اتَخَذَ اللهُ مِن وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِن إِلَهٍ إِذًا لَذَهَبَ كُلُ إِلَهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ )} [المؤمنون: ٩١]

“Tidaklah Allah mempunyai anak, tidak pula bersama-Nya sesembahan yang lain, (kalau ada) tentu setiap sesembahan akan pergi dengan apa yang dia ciptakan, dan sebagian mereka akan mengalahkan sebagian lainnya.” (QS Al Mukminun: 91)
Lalu renungkanlah ketika Allah semata pencipta, pemilik dan pengatur alam semesta, tentunya hal ini melazimkan kita untuk beribadah hanya kepada-Nya. Hanya Dialah yang paling berhak untuk diibadahi dengan segala macam bentuk peribadatan. Allah berfirman:

{( يٓأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَكم تَتَقُونَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشًا والسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِن السَّمَاءِ مَاءً فََأخْرَجَ بِهِ مِن الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُم فَلا تَجْعَلُوا لله أَنْدَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ )} [البقرة: ٢١]

“Wahai sekalian manusia beribadahlah kalian kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah mudahan kalian menjadi orang-orang yang bertakwa. Yang telah menjadikan bagi kalian bumi sebagai hamparan, dan langit sebagai atap. Dan telah menurunkan hujan dari langit, yang dengannya Dia mengeluarkan buah-buahan sebagai rezki buat kalian, maka janganlah kalian jadikan sekutu-sekutu bagi Allah dalam keadaan kalian mengetahui.” (QS Al Baqarah: 21)
Ahlu tafsir Ibnu Katsir menyatakan: “Pencipta segala sesuatu inilah yang paling berhak diibadahi”
Peribadatan kepada Allah semata merupakan tujuan penciptaan kita di muka bumi. Bukankah sering terlintas dalam benak kita, terdengar merdu ditelinga kita dan terbaca indah dengan mata kita firman Allah:
{( وَمَا خَلَقْتُ الجِّنَ وَالِإِنْسَ إِلَّا لِيَعبُدُنِ )} [الذاريات: ٥٦]
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS Adz Dzariyat :56)
Al Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dalam tafsirnya: “Makna ayat adalah Allah menciptakan makhluk agar mereka beribadah hanya kepada-Nya semata, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Maka barang siapa mentaati-Nya, Allah akan balas dengan balasan paling sempurna, dan barang siapa memaksiati-Nya, Allah akan adzab dengan adzab yang paling pedih.”
Berkata Ibnul Qoyim rahimahullah: “Allah mengkabarkan bahwa tujuan utama dari penciptaan-Nya adalah peribadatan kepada-Nya.” (Thariq Al Muhajirin 125)
Syaikh Muhammad At Tamimi memperjelas makna ayat ini : “Makna agar mereka beribadah kepada-Ku adalah agar mereka mentauhidkan-Ku.” (Tsalatsatul Ushul wa Adilatuha)
Dan karena tauhid inilah Allah menurunkan kitab-kitab kepada Para Rasul, mengutus Para Nabi dan Rasul kepada setiap umatnya, dan ditutup dengan mengutus Nabi dan Rasul Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam ke seluruh manusia dan jin. Allah jelaskan hal itu dalam firman-Nya:
{( وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كلِّ أُمَةٍ رَسُولاً أَنِ اعبُدُوا اللهَ واجْتَنِبُوا الطَاغُوتَ )} [النحل: ٣٦]

“Dan sungguh Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan) “Beribadahlah hanya kepada Allah dan jauhilah Thaghut” (QS An Nahl: 36)
Dan ini makna syahadat “La ilaha illa Allah”, “La ilaha” meniadakan peribadatan kepada seluruh sesembahan yang disembah selain Allah. Dan “illa Allah” menetapkan peribadatan hanya kepada Allah saja. Sehingga dengannya kita paham makna yang benar dari syahadat “La ilaha illa Allah” yaitu “Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah”. Ketika bebarengan dengan syahadat “Muhammad rasulullah”, keduanya merupakan tolak ukur dan keabsahan Islam seorang muslim.
Amalan yang sangat agung ini Allah janjikan padanya balasan yang sebanding pula bahkan berlipat ganda. Allah wahyukan keutamaan yang besar itu pada Nabi Muhammad shalallahu ‘alahi wasalam dengan sabdanya dihadits yang diriwayatkan dari Sahabat ‘Itban radhiyallahu:
(( فإن الله حرم على النار من قال لا إله إلاّ الله يبتغي بذلك وجه الله )) متفق عليه

“Sesungguhnya Allah haramkan bagi neraka, orang yang mengucapkan “Lailaha illa Allah” dalam keadaan berharap dengannya wajah Allah.” (HR Bukhori No. 425 dan Muslim No. 33)

Bahkan alam semesta ini dengan keindahan, keanekaragaman, keluasan dan kebesarannya, Allah ciptakan untuk menunjang dan menyempurnakan tujuan penciptaan kita yang mulia yaitu mentauhidkan-Nya. Simaklah firman Allah ini:

{( هُوَ الَّذِي خَلَقَ  لَكُمْ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعًا )}  [البقرة:  ٢٩]

“Dialah yang menciptakan segala yang ada di bumi untuk kalian.” (QS Al Baqarah: 29)
Hal itu tidaklah mengherankan, kalau kita melihat realita yang ada bahwa beribadah kepada Allah semata merupakan perintah Allah yang terbesar dan berbuat kesyirikan  kepada-Nya merupakan larangan Allah yang terbesar. Amalkanlah firman Allah ini:
{( وَأعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا )} [النساء:  ٣٦]

Beribadahlah kalian hanya kepada Allah, dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatupun” (QS An Nisa :36)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah memaparkan makna ibadah dengan pemaparan yang sempurna, bahkan para ulama setelahnya selalu menukil darinya, beliau menyatakan:
(( العبادة اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأعمال الظاهرة والباطنة )) [مجموع الفتوى ١٠/١٤٩]

“Ibadah adalah nama yang mencakup setiap hal yang Allah cintai dan ridhoi dari perkataan dan perbuatan baik yang tampak maupun yang batin” (Majmul Fatawa 10/149)
Ibadah yang Allah perintahkan macamnya sangat banyak diantaranya doa, rasa takut, berharap, tawakal, kembali kepada-Nya, meminta tolong, meminta perlindungan, meminta pemecahan masalah dalam keadaan yang sangat genting, nadzar, penyembelihan dan yang lainnya.
Semua macam ibadah harus ditujukan pada Allah semata, maka barangsiapa memalingkannya kepada selain Allah, sungguh dia telah musyrik dan kafir. Perhatikanlah firman Allah ini:
{( وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللهِ إلهًا ءَاخَرَ لاَ بُرهَانَ لَهُ بِهِ  فَِإنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِهِ إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الكَافِرُونَ )} [المؤمنون:١١٧]

Dan barang siapa menyembah sesembahan yang lain disamping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya  tentang itu. Maka sesungguhnya perhitungan mereka disisi Rabbnya. Sungguh orang-orang kafir tidak akan beruntung” (QS Al Mukminun: 117)
Ketika seorang telah melakukan kesyirikan maka seluruh amalannya hangus, gugur, dan terhapus seluruhnya tanpa tersisa sedikitpun. Shalat, puasa, zakat, sedekah, haji, dan amalan lainnya yang telah dia kumpulkan bertahun-tahun akan terhapus semuanya tanpa bekas secuilpun. Cermati firman Allah ini:
{( َولَوْ أَشْرَكُوْا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُو يَعْمَلُونَ )} [الأنعام: ٨٨]

“Kalau mereka mempersekutukan Allah, sungguh akan hapus dari mereka amalan yang dahulunya mereka kerjakan.” (QS Al An’am: 88)
Ketika seorang musyrik meninggalkan dunia yang fana ini dalam keadaan masih lekat kesyirikan bersamanya, maka Allah tidak akan mengampuninya selamanya. Berbeda halnya kalau dia benar-benar bertaubat dari kesyirikan sebelum wafat. Allah telah memaparkan hal itu dalam firman-Nya:

{( إِنَّ اللهَ لا َيَغَفِرُ أَن يُشْرِكَ بِهِ وَيَغْفِرُ ماَ دُونَ ذَلكً لمِِنْ يَشٓاء )} [النساء: ٤٨]

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa kesyirikan, dan mengampuni selain itu bagi yang Dia kehendaki.” (QS An Nisa: 48)
Pelaku kesyirikan pun akan kekal di neraka selamanya dan tidak akan pernah masuk surga. Bahkan diharamkan darinya, Allah jelaskan dalam firman-Nya
{( إِنَّهُ مَن يُشْرِك بِاللهِ فَقَد حَرَّم اللهُ عَليه الجَنَة وَمَأوَاهُ الَّنارِ ومَا للظَالمِينَ مِن أنصَارَ )} [المائدة:  ٧٢]

“Sesungguhnya orang yang menyekutukan Allah, telah Allah haramkan baginya surga, dan tempat kembali mereka adalah neraka, dan tidaklah ada penolong bagi orang-orang yang dholim.”(QS Al Maidah:72)
Tatkala kita telah mengetahui betapa ngerinya kesyirikan, maka kita harus menjauhi dan berlepas diri dari kesyirikan dan pelaku kesyirikan. Nabi Ibrohim ‘alahi salam contohkan sikap itu dan diabadikan dalam firman-Nya:
{( وَإِذ قَالَ إِِبرَاهِيمُ لأِبَيهِ وَقَومِهِ إنَِّنِي بَراءٌ مِمّا تَعبُدُون إِلا الذي فَطَرَنِي )} [الزخرف:٢٦- ٢٧]

“Dan tatkala Ibrohim berkata kepada bapak dan kaumnya: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah selain Yang menciptakan aku.” (QS Zuhruf: 26-27)
Untuk menjalankan tujuan utama penciptaan kita di muka bumi ini, dan melihat rintangan yang menghadang begitu dahsyat dan mengerikan, tentu kita butuh ilmu syar’i untuk membedakan mana tauhid dan mana syirik dalam keseharian kita. Disana ada beberapa macam kesyirikan yang terkadang tersamarkan bagi sebagian orang ataupun terkaburkan sisi kesyirikannya. Sempatkanlah waktu walau sesaat dalam sehari untuk kembali menelaah Islam dengan sebenar-benarnya.
Walau saat ini jarak memisahkan kita, namun kita selalu berdoa, semoga Allah kumpulkan kita semua di Surga Firdaus nan mulia.
Yang Selalu Kangen
Abu Abdillah Zaki ibnu Salman
Fiyus, 20 Rabiu Tsani 1435/20 Februari 2014

Hukum Mendatangi Dukun


HUKUM MENDATANGI DUKUN
Orang yang mendatangi dukun ada tiga keadaan:
1. Dia mendatangi dukun kemudian dia bertanya kepadanya dan percaya serta membenarkan ucapannya maka hal ini merupakan tindakan kufur kepada Allah Azza wa Jalla kerena mempercayai ucapan dukun berarti telah percaya dukun mengetahui ilmu ghoib sedangkan mempercayai orang yang mengaku tahu ilmu ghoib merupakan pendustaan terhadap firman Allah ta ‘ala
قل لا يعلم في السموات والأرض الغيب إلا الله

“Katakanlah bahwa tidak ada yang megetahui perkara ghoib kecuali Allah” (An Naml 60)
oleh kerena inilah datang dalam hadits yang shohih.

من أتى كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد صلى الله عليه و سلم                           

” Barang siapa yang mendatangi dukun kemudian dia mempercayai ucapannya maka dia telah mengkufuri apa yang diturunkan kepada Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa Sallam. ” HR At Tirmidzi no130 dishohihkan Asy Syaikh Al Albani dalam kitab Irwa’ no6817.

2. Dia mendatangi dukun lulu dia bertanya kepadanya namun dia tidak percaya terhadap ucapannya maka hal demikian harom, dan pelakunya mendapat hukuman tidak diterima sholatnya selama empat puluh hari sebagaimana telah disebutkan dalam hadits shohih Muslim no2230 bahwa nabi Sholallah alaihi wa Sallam  bersabda:

 من أتى عرافا فسأله لم تقبل له صلاة أربعين يوما

 “Barang siapa yang mendatangi tukang ramal kemudian dia bertanya padanya maka sholatnya tidak diterima selama 40 hari”
dalam riwayat ini Rosul menyatakan bahwa hanya bertanya saja telah membuat sholatnya tidak diterima selama 40 hari. sehingga tidak selayakya kita mendatangi dukun atau tukang ramal lalu bertanya kepadanya walaupun hanya iseng-iseng saja.
الله مستعان و عليه تكلان

3. Dia mendatangi dukun kemudian dia bertanya kepadanya dalam rangka membongkar kedok kebohonganya kepada manusia ,maka yang demikian tidak mengapa hal ini berdasarkan tindakan Nabi Sholallahu alaihi wasallam mendatangi Ibnu Shoyyad yang merupakan seorang dukun,beliau bertanya padanya untuk menunjukkan kelamahannya bahwa dia tidak mengetahui perkara ghoib sebagaimana dalam riwayat Bukhori no 1354 dan muslim no2923.
و الله تعالى أعلم بالصواب

(Disadur dari kitab Fatwa arkaanul islam kumpulan fatwa Asy Syaikh Al Utsaimin Rohimahulla ta’ala no75)

Faidah Dari Ustadz Abu Sufyan Sedayu Gresik

Syarat-Syarat di Terimanya Taubat


Al Imam Ahmad bin Hanbal ditanya mengenai seorang Alim Ulama yang tergelincir dalam kekeliruan dan Sungguh dia telah bertaubat darinya ?
Beliau menjawab : “Taubat tersebut tidak diterima darinya sampai terpenuhi padanya beberapa perkara :
  1. Menerangkan taubatnya
  2. Ruju’ dari ucapannya
  3. Hendaknya dia umumkan bahwa kesalahannya adalah dia mengucapkan perkataan ini dan itu.
  4. Dia jujur bahwa telah bertaubat kepada Allah dan telah ruju’ dari kesalahannya”.
“Ketika sudah jelas darinya perkara-perkara tersebut, maka taubatnya akan diterima”.
Kemudian beliau membacakan ayat firman Allah Ta’ala (artinya) :
“Kecuali orang-orang yang mereka telah bertaubat, membuat perbaikan, dan menjelaskan atas taubatnya”.
(Dzail Thabaqat Al Hanabilah Karya Ibnu Rajab 1/300)
سئل الإمام أحمد بن حنبل عن رجل من أهل العلم كانت له زلة وقد تاب منها ؟فقال : ﻻ يقبل الله ذلك منه حتى
1- يظهر التوبة .
2- والرجوع عن مقالته .
3- وليعلمن أنه قال مقالته كيت وكيت .
4- وأنه تاب إلى الله تعالى من مقالته ورجع عنه فإذا ظهر ذلك منه حينئذٍ تقبل . ثم تلا قوله تعالى ( إلا الذين تابوا وأصلحوا وبينوا  ) “.
ذيل طبقات الحنابلة لابن رجب . ج 1 ص
300


Faidah dari Ustadz Hamzah Rifai La Firlaz Hafizhahullah

Kafirkah Orang Yang Berhukum Dengan Selain Hukum Allah?


KAFIRKAH ORANG YANG BERHUKUM DENGAN SELAIN HUKUM ALLAH ?

Allah Azza wa Jalla mensifati orang yg berhukum dgn selain hukum Allah dalam Al Qur’an dengan tiga sifat:
Kafir, Dzolim, dan Fasik hal ini berdasarkan firman Allah berikut ini:

١. و من لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون

“Barang siapa yg tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka termasuk orang-orang yg kafir.”
(Al Maidah 44 )

٢. و من لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الظالمون

“Barang siapa yg tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka termasuk orang-orang yg dzolim”(Al Maidah 45)

٣. و من لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الفاسقون

“Barang siapa yg tidak berhukum dgn hukum Allah maka mereka termasuk orang-orang yg fasik”
(Al Maidah 47)

1. Disifati dgn kafir pada tiga keadaan: 

a. Bila menyakini bolehnya berhukum dengan    selain hukum Allah.
b. Bila dia menyakini bahwa hukum mahluk sederajat dengan hukum Allah.
c. Bila dia meyakini hukum mahluk lebih baik dari hukum Allah.

2. Disifati dengan dzolim
Apabila dia menyakini hukum Allah adalah yg terbaik, paling bermanfaat untuk hamba-hamba Nya dan wajib menerapkan hukum Allah, namun karena kebenciannya terhadap terdakwa maka dia tidak menerapkan hukum Allah pada terdakwa,dia menerapkan hukumnya sendiri.

3. Disifati dengan kefasikan
Apabila dia berhukum dengan hukum mahluk karena mengikuti hawa nafsunya, walaupun batinnya menyakini hukum Allah adalah yg benar dan wajib berhukum dengannya.

(Disadur dari kitab Al Qoulul Mufiid karya Asy Syaikh Al Utsaimin Rohimahullah ta’ala)

Faidah dari: Ustadz Abu Abu Sufyan Al Musy

Perbaikilah Niat dan Hindari Murka Allah


Ditulis oleh: Al-Ustadz Idral Harits Hafizhahullah

Kembali kita berbagi, semoga Allah jadikan kita termasuk orang-orang yang mau mengambil peringatan dan petunjuk,yang datang dari Allah dan Rasul-Nya berdasarkan bimbingan ulama ahlissunnah. Lebih-lebih lagi, al haq atau al hikmah adalah barang berharga orang-orang mukmin yang tercecer, maka siapapun yang menyerahkan kepadanya,itu adalah miliknya..dan sudah tentu,orang mukmin pasti mengetahui itu adalah miliknya,karena Allah telah meletakkan dalam hatinya al furqan, sebagai buah taqwAllah yang selama ini dipupuk dan ditumbuh kembangkannya.

Semoga Allah merahmati Ats Tsauri yang pernah mengatakan bahwa tidak ada yang paling berat beliau tangani selain masalah niat..

begitu pula halnya yang dirasakan oleh Sahl bin Abdullah At Tustari yang berkata, ”Tidak ada sesuatu yang lebih berat dirasakan oleh nafsu dari pada keikhlasan. Sebab, nafsu tidak menerima bagian sama sekali di dalamnya..!

Sungguh, niat yang ikhlas bukanlah hiasan bibir, tetapi keadaan hati yang hanya mengharap Wajah Allah.

Yusuf bin Al Husain ar Razi berkata,”Yang paling sulit (juga paling mulia) di dunia ini adalah ikhlas. Betapa sering aku berupaya keras menghilangkan riya dari hatiku, namun seakan-akan dia tumbuh lagi di dalamnya dalam corak warna yang lain.”

Riya adalah dosa besar dan dia adalah sifat orang-orang munafik. sebagaimana diterangkan Allah Ta’ala dalam firmanNya (an nisa’ 142). Allah Ta’ala juga mengancam mereka (al ma’uun 4, dst).

Mereka yang di ancam ini ternyata adalah orang-orang yang mengerjakan shalat.

Sahwu yang di sebut dalam ayat ini ialah lalai dari apa yang wajib dalam shalat, bisa jadi lalai dari waktu, sebagaimana menurut ibnu Mas’ud dll. Bisa pula dari hadirnya hati dan lalai dari ke khusyukan.

Allah Ta’ala mengisahkankan bahwa kaum munafik itu juga shalat, tetapi Allah Ta’ala sifati mereka dengan lalai, yaitu dari waktunya yang wajib, atau dari keikhlasan dan hadirnya hati yang wajib.
Oleh sebab itu, mereka dikatakan riya.

Ibnul Qayyim merajihkan, bahwa makna ayat ini ialah mereka meremehkan waktunya dan cara menunaikannya.

Mereka suka menunda-nunda pelaksanaannya sampai habis.

Mereka tidak memerhatikan shalatnya, tidak menjaga waktu dan syarat-syaratnya, tidak peduli apakah dia shalat ataukah tidak. Orang munafik itu tidak meyakini wajibnya shalat, mereka hanya menampakkan kepada kaum muslimin bahwa mereka shalat, kalau sendirian, mereka tidak shalat.

Dalam Ayat ke lima Allah menerangkan bahwa sifat mereka ialah tidak mengerjakan shalat yang mereka lakukan secara lahiriah, sebagaimana yang dikerjakan kaum muslimin yang hakiki, bahwa shalat itu wajib dan mendekatkan diri kepada Allah.

Adapun firman Allah:

للمصلين

(Bagi orang-orang yang shalat), adalah inti dari

الذين يكذب بالدين….

(Yaitu orang-orang yang mendustakan agama…)

dengan demikian seakan-akan maknanya ialah kecelakaanlah bagi mereka yang shalat, karena lalai dari shalatnya, riya dan tidak mau meminjamkan sesuatu biarpun remeh..

Kata syaikh Sa’di, kalau dengan yang kurang berharga saja dia tidak mau meminjamkan karena kikirnya, lebih-lebih lagi barang yang berharga. Dalam ayat ini tidak dikatakan lalai dalam shalatnya, karena tentang hal ini siap apapun bisa mengalami, dan karena itulah di syariatkan sujud sahwi.

Ringkasnya, lalai dari shalat adalah perbuatan orang yang munafik, sedangkan lalai dalam shalat bisa menimpa orang yang beriman.

Wallahu a’lam.